Jumat, 24 Februari 2017

Memanfaatkan Potensi Lingkungan

Warga Purwoyoso Antusis Ikuti Pelatihan Pembuatan Sirup
PELATIHAN: Para mahasiswa KKN UPGRIS sedang melakukan pelatih pembuatan sirup dan abon kepada warga Kelurahan Purwoyoso Ngaliyan Semarang di Balai Posyandu Rt 05 Rw 11, Rabu, (22/2). Foto: Shodiqin
SEMARANG- Puluhan warga bersama ibu-ibu PKK Kelurahan Purwoyoso Kecamatan Ngaliyan tampak semangat, saat mengikuti pelatihan pembuatan sirup yang diselenggarakan oleh tim KKN UPGRIS 2017 Kelurahan Purwoyoso Kecamatan Ngaliyan Semarang , Rabu, (22/2).
Uniknya, pelatihan yang digelar di Balai Posyandu Rt 05 Rw 11 tersebut, dalam pembuatan sirup, warga tengah memanfaatkan buah belimbing yang banyak tumbuh di lingkungan sekitar.
“Jadi kita memanfaatkan potensi yang ada di lingkungan warga seperti pohon belimbing yang untuk dijadikan sebagai bahan dasar pembuatan sirup,” kata Koordinator KKN UPGRIS 2017 Lutfi Izurrohman kepada Wawasan, Rabu, (22/2) dilokasi.
Selain itu, pelatihan pembuatan sirup, warga juga dilatih membuat abon dengan bahan dasar ikan lele. Alasananya yakni, pertama, tingkat dan minat warga makan ikan rendah. Kedua, harga lele murah dan sangat gampang didapatkan di pasar serta bisa dibudidaya. Ketiga, Pandangan masyarakat bahwa kalau makan ikan itu membutuhkan harga yang mahal.
“Jadi pembuatan abon ikan lele menjadi salah satu alternatif untuk meningkatkan konsumsi warga sehingga berdampak pada gizi masyarakat sekitar,” harapnya.
Selain pelatihan pembuatan makanan, tim KKN juga memberikan pelatihan kerajinan tangan dengan membuat lambu hias dengan bahan dasar sick eskrim. “Lampu hias ini kalau dikembangkan lebih kreatif memiliki daya jual tinggi dan bisa menjadi lowongan pekerjaan bagi warga,” harapnya.
Sementara itu, Kasi Pemerintahan dan Pembangunan Kelurahan Purwoyoso Darmawan Wibisono menyabut positif apa yang dilakukan oleh tim KKN UPGRIS dengan mengadakan pelatihan pembuatan sirup, abon dan kerajinan tangan.
“Semoga pelatihan ini kedepan dapat dimanfaatkan serta dikembangkan oleh warga. Sehingga akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi khususnya di lingkungan Purwoyoso,” harapnya. M13

Pasar Yaik Semarang

Tas Impor Lebih Diminati Daripada Tas Lokal
MEMILIH: Seorang pembeli tengah memilih tas impor yang ingin dibelinya, tepatnya di salah satu Toko Pasar Yaik Kauman Johar Semarang, Kamis, (23/2). Foto: Shodiqin
SEMARANG- Tampak lebih elegan, tas impor dari Cina ternyata lebih diminati masyarakat ketimbang tas buatan lokal atau Indonesia. Hal itu yang terlihat di beberapa toko di Pasar Yaik Kauman Johar Semarang.
Dari pantauan Wawasan, Kamis, (23/2) dilokasi, berbagai macam model tas impor tersebut mulai dari jenis dompet, slempang, ransel, jinjing dan handbag banyak diminati para pembeli.
Ahmad Rifai salah satu pemilik Toko Nikita  yang menjual tas impor mengatakan, penjualan tas impor semakin hari semakin meningkat khususnya masyarakat kalangan menengah ke atas.
“Tas impor ini banyak diminai kaum perempuan baik kaum muda maupun ibu-ibu dari kalangan menengah ke atas,” kata Rifai kepada Wawasan, Kamis, (23/2).
Menurut Rifai, minatnya masyarakat terhadap tas impor ini, karena selain harganya cukup murah, warnanya cukup mengkilat, kualitas juga cukup bagus. Tas impor ini juga banyak variasinya. Seperti di dalam tas terdapat ada dua dompet yaitu tas kecil dan besar.
“warna dan variasi ini yang menjadi daya tarik kaum perempuan,” tambahnya.
Untuk harga sendiri cukup relatif terjangkau mulai dari Rp 150 ribu hingga Rp 350 ribu. “Yang paling laku adalah jenis tas model handbag yang biasa digunakan acara-acara resmi seperti pernikahan, arisan, jalan-jalan dan lainnya,” paparnya.
Hal serupa juga diungkapkan oleh Muhammad Husaen yang juga menjual tas impor dan tas buatan lokal. Ia mengatakan, menjual tas impor dan lokal sama-sama menguntungkan.
“Namun, untuk tas impor labanya sedikit tetapi jumlah penjualanya cukup banyak. Sementara tas buatan lokal untungnya banyak tetapi jumlah penjualanya sedikit,” katanya. M13



Kodam IV/Diponegoro

Mayjen TNI Jaswandi Resmi Pangdam Jaya
UCAPAN SELAMAT: Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal TNI Mulyono mengucapkan selamat kepada Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Jaswandi yang sekarang menjabat Pangdam Jaya dalam upacara di Aula Jenderal Besar A.H. Nasution, Mabesad Jakarta, Jumat (24/2). Foto : dok
WATUGONG- Mayjen TNI Jaswandi secara resmi menjadi Pangdam Jaya/Jayakarta mengantikan Mayjen TNI Teddy Lhaksmana oleh Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal TNI Mulyono saat memimpin upacara serah terima di Aula Jenderal Besar A.H. Nasution, Mabesad Jakarta, Jumat (24/2).
Selain itu, TNI Mulyono juga melantik Komandan Pusat Teritorial Angkatan Darat (Danpusterad) dari Mayjen TNI Mukson kepada Mayjen TNI Hadi Prasojo, dan Asisten Pengamanan (Aspam) Kasad dari Mayjen TNI Rudy Yulius Huliselan kepada Brigjen TNI Ilyas Alamsyah.
Kasad mengatakan, serah terima jabatan merupakan bagian dari implementasi pembinaan personel dalam rangka regenerasi, sekaligus realisasi dari tour of duty dan tour of area.
“Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk menjaga kesinambungan jalannya organisasi sekaligus untuk memelihara dan senantiasa meningkatkan kualitas kinerja dalam pelaksanaan tugas pokok,” katanya melalui rilisnya yang dikirim ke Kodam IV/Diponegoro Semarang kepada Wawasan, Jumat, (24/2).
Dari itu semua menurut Kasad yang terpenting dan harus dipahami bahwa pergantian pejabat tinggi TNI AD dilakukan dengan mengedepankan prinsip-prinsip kepentingan pembinaan satuan dan pembinaan personel.
Berkenaan dengan kegiatan serah terima jabatan ini, Kasad mengucapkan terima kasih kepada Mayjen TNI Purwadi Mukson, Mayjen TNI Teddy Lhaksmana dan Mayjen TNI Rudy Yulius Huliselan beserta isteri, atas segala dedikasi dan pengabdiannya selama ini.
“Sehingga dapat menyelesaikan tugas dalam memimpin dan membina satuan maupun organisasi Persit Kartika Chandra Kirana dengan baik, hingga memasuki masa purna bakti,” tambahnya.
Amanah
Selanjutnya, Kasad menyampaikan ucapan selamat atas kepercayaan dan amanah yang diberikan pimpinan kepada Mayjen TNI Hadi Prasojo, Mayjen TNI Jaswandi dan Brigjen TNI Ilyas Alamsyah, untuk menjabat sebagai Danpusterad, Pangdam Jaya/Jayakarta dan Aspam Kasad.
“Kami berharap amanah jabatan yang diemban dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, dengan terus berbuat yang terbaik, berani, jujur, tulus dan ikhlas mengabdi bagi kepentingan organisasi, Bangsa dan Negara,” harapnya.
Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Jaswandi menjabat Pangdam Jaya berdasarkan skep Panglima TNI No Kep/141/II/2017 tanggal 23 Februari 2017. Untuk sementara Mayjen TNI Jaswandi masih merangkap jabatan sebagai Pangdam IV/Diponegoro sampai menunggu perintah lebih lanjut dari Panglima TNI. M13

Buruh Tuntut Kepastian

Ratusan Buruh Simoplas Geruduk Disnakertrans
JALAN KAKI: Ratusan karyawan melakukan demo jalan kaki dengan tidak mengunakan pakai dari Halaman RRI Semarang menuju Kantor Disnakertrans Semarang, Kamis, (23/2). Foto: Shodiqin
SEMARANG- Ratusan buruh pabrik PT Simongan Plastik (Simoplas) Randugarut, Tugu, Semarang kembali melakukan aksi demo atas tuntutan ketidak jelasan selama dua tahun di rumahkan dan tidak diberi upah oleh perusahan.
Dari pantauan Wawasan, Kamis, (23/2) dilokasi, aksi demo kali ini dilakukan dengan cara berbeda yaitu long march dari depan Halaman RRI hingga kantor Disnakertrans Jalan Kimangunsarkoro sekitar pukul 10.00 WIB.
Uniknya para buruh laki-laki selama perjalanan melepaskan kaos dan membawa bendera serikat buruh sebagai bentuk ketidak adilan.
Salah satu perwakilan, Ahmad Zainudin mengatakan aksi long march dengan bertelanjang dada ini dilakukan buruh sebagai simbol bahwa mereka ingin upah dan THR-nya bisa dibayar perusahaan. Sehingga, mereka bisa membeli baju baru untuk lebaran. 
Menurutnya, sudah sejak April 2015 hingga sampai saat ini 2017, kami dirumahkan dan upah kami belum dibayar. Begitu juga dengan THR lalu.
“Kami sampai sekarang pun belum mendapat kepastian hubungan kerja, apakah akan di PHK atau dipekerjakan kembali. Kesepakatannya, waktu itu, upah dibayar sebesar 69 persen dari gaji. Tahun lalu, untuk gaji sekitar Rp 1,9 juta dan tahun ini Rp 2 jutaan,” ujar Zainudin. 
Diungkapkan Zainudin, ada lebih dari 1.900 buruh yang dirumahkan. Beruntung, sebanyak 400-an di antaranya kini dipekerjakan kembali. Namun sisanya 1.500 masih di rumahkan dan tidak jelas.
“Sebenarnya tak hanya upah, dan THR. BPJS Ketenagakerjaan kami juga tidak dibayarkan. Maka dari itu kami datang dan minta Dinas Tenaga Kerja bisa membantu menyelesaikan permasalahan-permasalahan ini ke pihak perusahaan. Semoga melalui mediasi antara dinas, kami dan perusahaan, ada titik temu," tambahnya. 
Mediator Disnaker, Sugiyono meminta manajemen perusahaan bisa segera menyelesaikan kewajiban dengan para buruh sesuai dengan kesepakatan. Perusahaan membayar upah buruh yang dirumahkan sebesar 69 persen tiap bulan, kemudian juga memberikan kepastian kelanjutan hubungan kerja dan membayar iuran BPJS Ketenagakerjaan yang menunggak. 
Perusahaan mengaku bisa menyiapkan dana sebesar Rp 15 miliar untuk membayar semuanya, mulai dari upah hingga pesongon untuk yang nanti di PHK. Namun penawaran tersebut, ditolak oleh buruh. "Serikat pekerja buruh menginginkan diselesaikan satu per satu. Upah dulu, kemudian yang lain. Sehingga mediasi hari ini belum mendapat titik temu. Akan dilanutkan pada 9 Maret mendatang," tambah Sugiyono. 

Sementara itu, salah satu pimpinan perusahaan PT Simoplas, Marcus saat adilokasi menyatakan, terkait permasalahan-permasalahan itu, pihaknya akan berusaha menyelesaikannya dengan baik. “Saat ini, kami juga sudah mulai mempekerjakan kembali sebagian ratusan buruh yang dulunya di rumahkan,” katanya. M13

Harga Cabai Mahal

Warga Jatisari Serentak Budidaya Cabai
TANAM CABAI : Ibu-ibu PKK warga RT 8 RW 6 Perumahan Jatisari Asri BSB mijen guyub menanam bibit cabai yang diikuti oleh mahasiswi Brasil-AISEC Undip Gabriela Oertel Fonseca, baru-baru ini. Foto: Shodiqin
Masih tingginya harga cabai di pasaran mendorong warga RT 8 RW 6 Perumahan Jatisari Asri BSB Mijen Semarang mengembangkan budidaya menanam cabai serentak di halaman rumah.
Secara bergotong royong warga menanam dengan menggunakan pot polybag menanam tunas tanaman cabai usia sekitar dua minggu yang dicampur kompos.
Ketua Penggerak PKK RT 8 Eva Prasetya mengatakan, kebutuhan akan cabai sangat dirasakan warganya dalam untuk memasak setiap hari. Apalagi harga di pasaran masih cenderung tinggi sehingga berinisiasi untuk mengembangkan tanaman cabai secara mandiri.
“Kami beli bibit cabai, tanam merah, dan kompos. Lalu secara gotong royong kita tanam di dalam polybag dan langsung dibagikan kepada tiap warga,” katanya kepada Wawasan, Kamis, (23/2).
Sebanyak 200 bibit tanaman cabai dibagikan secara gratis untuk dirawat dan dikembangkan warga. Hasilnya bisa dimanfaatkan untuk memasak atau bumbu dapur sendiri-sendiri. Selain tanaman cabai, warga juga menanam bibit terong.
“Kami ada sekitar 30 KK, setiap KK kita berikan lima polybag bibit cabai dan dua polybag bibit terong. Bahkan kami juga menyetok guna mengantisipasi jika ada bibit cabai atau terong yang mati selama pengembangan oleh warga,” katanya.
Proses penanaman cabai pun menjadi menarik dan unik lantaran ada salah satu mahasiswi asing yang tergabung dalam AISEC Undip ikut berpartisipasi menanam cabai dan terong.
“Ada satu mahasiswi asing asal Brasil, sudah dua bulan home stay di salah satu rumah warga kami. Dia selalu ikut kegiatan warga dan berbaur, salah satunya menanam bibit cabai dan senam pagi sebelum penanaman,” ujar Eva.
Sementara, mahasiswi Brasil yang bernama Gabriela Oertel Fonseca, mengaku senang bisa berbaur dan mengenal warga Perumahan Jatisari Asri. Dia terkesan akan kebersamaan dan aneka jenis kegiatan rakyat yang sangat kekeluargaan.
“Saya sendiri tidak suka pedas seperti cabai, tapi ini unik warga menanam sendiri dan dikembangkan. Saya juga kerap ikut kegiatan warga seperti senam pagi setiap minggu, kesenian rebana dan kerja bakti,” katanya dalam bahasa Inggris. Shodiqin




Berjualan di Jalan Agus Salim

Pedagang Ditertibkan Satpol PP Semarang
TERTIBKAN: Sejumlah lapak pedagang di tertibkan petugas Satpol PP Kota Semarang karena berjualan di Sepanjang Jalann Agus Salim Semarang, Rabu (22/2). Foto: Shodiqin
KAUMAN- Kembalinya para Pedagang Kaki Lima (PKL) yang berjualan di sepanjang Jalan Agus Salim Johar Semarang, membuat Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Semarang terpaksa kembali melakukan penertiban, Rabu (22/2) siang.
Kepala Seksi Operasi dan Penindakan Satpol PP Kota Semarang, Sudibyo mengatakan, penertiban terhadap pedagang ini lantaran pedagang berjualan ditempat larangan yakni di sepanjang Jalan Agus Salim.
Sehingga, keberadaan mereka membuat arus jalan sedikit tersendat dan  juga membuat kecemburuan para pedagang yang sudah pindah di tempat relokasi Pasar Johar MAJT.
“Agar tidak terjadi kecemburuan, dan kemacetan lalu lintas maka kami tertibkan. Hal ini juga berharap relokasi Pasar Johar MAJT bisa ramai,” kata Sudibyo  kepada Wawasan, Selasa, (22/2).
Ia menambahkan, dalam penertiban kali ini kurang lebih terdapat  60 pedagang yang ditertibkan mulai dari pedangang buah, tas, sayuran dan perabot rumah tangga serta lainnya. “Kami juga mengamankan peralatan yang digunakan sebagai tempat jualan pedagang,” tegasnya.
Muhaimin (45), salah satu pedagang mengaku, terpaksa berjualan di sepanjang Jalan Agus Salim Semarang karena ditempat relokasi sepi penggunjung.
“Maka dari itu kami terpaksa berjualan di tempat ini. Sebab tempat ini cukup ramai. Kami juga berharap Pasar Johar agar cepat dibangun biar tidak ada lagi pedagang yang berjualan di tempat larangan,” katanya. M13



Kasus Lingkungan

Satu Bulan Uji Kualitas Asap Belum Keluar
MELINTASBeberapa kendaraan melintas di PT Ria Sarana Putra Jaya yang memproduksi besi ketika sedang melakukan produksi di Kawasan Industri Tugu Semarang, Selasa, (21/2). Foto: Shodiqin
TUGU- Sudah lebih satu bulan hasil uji kualitas asap pabrik besi, PT Ria Sarana Putra Jaya yang dijanjikan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota dan Provinsi, sampai sekarang belum keluar. Hal itu diakui Kepala Bagian Personalia PT Ria Sarana Putra Jaya, Priyono saat ditemui Koran Pagi Wawasan, di kantornya Kawasan Industri  Tugu Semarang.
Priyono menyatakan, DLH menjanjikan mengeluarkan hasil uji kualitas asap pabrik satu bulan lalu terhitung tanggal 17 Februari 2017, baik di dalam bangunan pabrik maupun di luar. “Namun, sampai sekarang hasil uji kualitas asap pabrik juga belum keluar,” tambahnya.
Ia berharap, hasil uji kualitas asap pabrik yang dilakukan dinas terkait segera keluar. Menurutnya, jika nanti hasil pengujian mengungkapkan asap pabrik sudah sesuai baku mutu, maka sudah tidak ada yang perlu dipersoalkan oleh masyarakat.
“Namun bila memang belum sesuai standar baku mutu, pihaknya akan meminta saran lagi dari DLH untuk melakukan pembenahan lebih lanjut.” paparnya.
Saat ini, pihaknya juga telah melakukan perbaikan dan pembenahan agar asap pabrik tak sampai ke pemukiman warga. Filter bag pada dust collector (mesin penghisap asap dan debu) yang sebelumnya terbakar, sudah diganti. “Kami juga sudah mengoperasikan dua mesin dust collector,” jelas dia. 
Sementara itu, Ketua RT 7/RW 2 Pundensari, Haryono mengatakan, warga ingin mendapat informasi apakah kualitas asap pabrik tersebut sudah sesuai baku mutu atau belum, dan apa bahayanya bagi kesehatan. “Kami ingin tahu hasilnya seperti apa, karena sudah sejak satu bulan lalu dilakukan pengujian," ucap Haryono
Diungkapkan, saat ini asap pabrik industri PT Ria terkadang masih mencemari lingkungan, terutama pada pagi dan sore hari. ''Namun jika dibandingkan sebelumnya, sudah jauh berkurang,'' jelasnya.
Warna asapnya pun sudah tak pekat. Namun, menurut dia, warga berhak mengetahui hasil uji kualitas asap pabrik tersebut, karena selama ini merasakan dampaknya secara langsung.
“Saat ini, memang asap pabrik sudah tidak masuk ke rumah lagi, tapi bau asapnya masih tercium, terutama pada pagi dan sore hari. Tapi jika dibandingkan beberapa bulan lalu, sudah jauh berkurang,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Semarang Gunawan Sapto Giri saat dikonfirmasi Wawasan, Rabu, (22/2) melalui telepon membenarkan, hasil uji kualitas asap pabrik besi, PT Ria Sarana Putra Jaya belum keluar.
“Seharusnya sudah keluar, untuk itu kami akan mengkoordinasikan kepada Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Tengah menanyakan lebih lanjut,” katanya. M13



Jumat, 17 Februari 2017

Prajurit TNI IV/Diponegoro

Satgas Yonif 405/SK Ditugaskan di Papua 
MENAGIS: Salah satu anak tengah menagis saat berpamitan dengan ayahnya sebelum diberangkatkan bertugas di Papua selama senam bulan. Foto: Shodiqin
SEMARANG- Panglima Kodam IV/Diponegoro Mayaor Jenderal TNI Jaswandi secara langsung menghadiri upacara pemberangkatan Satgas Yonif 405/Surya Kusuma (SK) yang akan melaksanakan tugas Ops Pengamanan Perbatasan (Pamtas) RI-PNG di Papua Sektor Selatan di Dermaga Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Kamis, (16/2) pukul 08.00 WIB.
Satgas dengan jumlah 450 prajurit ini akan melaksanakan tugas Pamtas RI-PNG di Papua Sektor Selatan selama sembilan (9) bulan kedepan.
Dalam sambutanya Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Jaswandi mengucapkan selamat kepada Yonif 405/SK atas kepercayaan pimpinan TNI dan negara untuk melaksanakan tugas mulia di wilayah Papua.
Menurutnya, melaksanakan tugas operasi merupakan kehormatan dan kebanggaan bagi seluruh prajurit ketika panggilan tugas itu datang. Tidak setiap prajurit memiliki kesempatan dan kehormatan seperti yang kalian dapatkan sekarang, sebab hanya prajurit yang telah terlatih dan siap fisik dan mental yang bisa di berangkatkan medan tugas operasi.
“Untuk itu saya menginggatkan kepada kalian, untuk selalu menunjukkan sikap perilaku dan tindakan serta kemampuan terbaik dalam melaksanakan tugas di daerah operasi. Keberhasilan dalam setiap pelaksanaan tugas, menjadi ukuran penting bagi profesionalitas para prajurit,”  jelas Jaswandi.
Pangdam juga menyampaikan agar kepada seluruh prajurit memahami situasi dan kondisi wilayah perbatasan Papua dengan segala dinamika yang berkembang saat ini. Pelajari antomi daerah penugasan dalam berbagai sudut pandang, di antaranya penduduk, budaya dan karakter masyarakat Papua.
Tularkan Ilmu
Selain tugas utama pengamanan, Pangdam juga menyampaikan ada tugas tambahan yang dapat prajurit lakukan di Papua, terlepas disana juga ada masyarakat seperti menularkan ilmu dan mengajak berkomuniasi dengan baik.
“Jadi kalian bisa menjadi guru pengajar, perawat, dan memberikan pengetahuan di bidang pertanian yang sudah dibekali. Intinya kalian dapat memperdayakan masyarakat setempat,” harap Jaswandi.
Hadir dalam upacara pemberangkatan Satgas diantaraya Kasdam IV/Diponegoro, Irdam IV/Diponegoro,Danlanal Semarang, Kapolrestabes Semarang,  Ibu ketua dan segenap pengurus persit KCK PD IV/Diponegora serta lainnya. Shodiqin


Setahun Tak Bayar

Satpol PP Kota Semarang Segel Taman Ria TBRS (Wonderia)
MENYEGEL: Kasatpol PP Kota Semarang Hendro PM dibantu para penyidik perda Kota Semarang melakukan penyegelan Taman Ria TBRS (Wonderia) di Jalan Sriwijaya Nomor 29 Semarang, Kamis (16/2) pukul 11.00 WIB. Foto: Shodiqin
SEMARANG- Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Semarang Hendro PM secara tegas melakukan penyegelan Taman Ria TBRS (Wonderia) di Jalan Sriwijaya Nomor 29 Semarang, Kamis (16/2) pukul 11.00 WIB.
Hendro mengatakan, penyegelan ini menindaklanjuti surat pemutusan perjanjian kerjasama pembangunan dan pengelolaan Taman Ria oleh PT Smart dengan Pemerintah Kota Semarang. Surat ini juga langsung ditandatangai oleh Walikota Semarang.
“Dasar penyegelan ini adalah penghentian kerjasama karena dari pihak manajemen PT Smart sebagai pegelola Taman Ria TBRS tidak bisa memenuhi kewajiban dan pembayaran royalti dan denda kepada Pemerintah Kota Semarang sebesar  Rp 3 Miliyar lebih,” kata Hendro kepada Wawasan, Kamis, (16/2) dilokasi.
Jumlah denda Rp 3 Miliyar ini, terhitung kewajiban pembayaran royalti dan denda sejak awal tahun 2016 hingga 2017 oleh PT Smart. “Jadi dengan adanya penyegelan ini Pemerintah Kota Semarang mengambil alih seluruh aset yang ada di Taman Ria TBRS ini,” tambahnya.
Menurut Hendro, penyegelan Taman Ria ini merupakan langkah terakhir yang dilakukan pemerintah Kota Semarang. Sebab, PT Smart sudah seringkali diperingatkan. Terakhir mereka diajak rapat untuk koordinasi di Kantor Walikota Semarang pada Selasa (14/2) kemarin. Namun mereka juga belum bisa memenuhi kewajibannya.
“Jadi kami melakukan dengan penyegelan. Kalau sudah dilakukan penyegelan, semua aktivitas dilarang dan properti yang ada di dalam lokasi juga tidak boleh digunakan terlebih dibawa keluar,” jelas Hendro.
Hendro juga menambahkan, sebelum dilakukan penyegelan ini, pihak menejemen PT Smart sempat meminta pengunduran waktu dengan alasan pihak PT Smart telah menjalin kerjasama dengan pihak ketiga untuk mengadakan event di lokasi ini.
“Tetapi karena ini sudah keputusan akhir, jadi tidak ada pengunduran waktu atau dispensasi waktu dalam melakukan penyegelan lokasi,” tegasnya.
Dalam penyegelan lokasi, hadir penyidik dari petugas Satpol PP Kota Semarang dan dibantu puluhan petugas Satpol PP Kota Semarang. Shodiqin


Pelayanan Pemerintah Daerah Paling Banyak Dilaporkan

Kota Semarang Menempati Urutan Tertinggi
Sumber Ombudsman Jawa Tengah

SEMARANG- Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Jawa Tengah mencatat selama 2016 terjadi kenaikan terkait aduan atau laporan masyarakat terhadap pelayanan publik di instasi pemerintahan Jawa Tengah.

Plt. Kepala Perwakilan Ombudsman RI Perwakilan Provinsi Jawa Tengah Sabarudin Hulu, mengatakan, berdasarkan laporan masyarakat yang dilaporkan kepada Ombudsman untuk tahun 2016 terjadi peningkatan dengan angka mencapai 184 laporan masyarakat dibandingkan di tahun 2015 dengan angka 121 laporan dari masyarakat.

“Ini artinya dalam satu tahu ada kenaikan sebanyak 63 laporan dari masyarakat,” kata Sabarudin saat ditemui Wawasan, Jumat, (17/2) di kantornya di Jalan Erlangga II Nomor 4 Semarang.
Ia menambahkan, laporan yang diterima dari masyarakat, yang paling banyak terjadi adalah pelayanan yang diselenggarakan pemerintah kabupaten/kota. Disusul pelayanan kepolisian baik Polda maupun Polres dan pelayanan Kantor Pertahanan di Provinsi dan kabupaten/kota.
“Berdasarkan substansi dugaan maladministrasi yang dilaporkan beragam macam, namun yang paling banyak yang dilaporkan yakni pelayanan publik terkait penundaan berlarut-larut (tidak ada kepastian pelayanan). Disusul tidak memberikan pelayanan, penyimpangan prosedur dan penyalahgunaan wewenang serta permintaan uang atau pungutan liar (pungli),” jelas Sabarudin.
Sementara, berdasarkan asal daerah instansi terlapor, Kota Semarang menempati urutan teringgi sebanyak 72 laporan (39,1%) diikuti Kabupaten Grobogan, Kabupaten Kudus dan Kabupaten Demak sebanyak 12 laporan (6,5%), Kabupaten Semarang sebanyak 11 laporan (6,0%).
Fakta ini berbanding lurus dengan jumlah laporan masyarakat berdasarkan asal Daerah Pelapor dimana Pelapor dari Kota Semarang menempati urutan tertinggi diikuti Kabupaten Grobogan, Kabupaten Kudus, Kabupaten Demak dan Kabupaten Semarang.
“Banyaknya laporan masyarakat di daerah tersebut menunjukkan semakin meningkatnya pemahaman masyarakat tentang kualitas pelayanan publik/standar pelayanan publik,” tegasnya. Shodiqin





Kamis, 16 Februari 2017

Upacara Pemberangkatan Satgas Yonif 405/SK Dalam Rangka Pamtas RI-PNG

Panglima Kodam IV/Diponegoro Mayaor Jenderal TNI Jaswandi secara langsung menghadiri upacara pemberangkatan Satgas Yonif 405/Surya Kusuma (SK) yang akan melaksanakan tugas Ops Pengamanan Perbatasan (Pamtas) RI-PNG di Papua Sektor Selatan di Dermaga Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Kamis, (16/2) pukul 08.00 WIB.

Sementara itu, para prajurit ini akan melaksanakan tugas Pamtas RI-PNG di Papua Sektor Selatan selama sembilan (9) bulan kedepan. 

UPACARA: Para Satgas Yonif 405/Surya Kusuma (SK) melaksanakan upacara sebelum bertugas untuk Ops Pengamanan Perbatasan (Pamtas) RI- PNG di Papua Sektor Selatan. Foto: Shodiqin

Panglima Kodam IV/Diponegoro Mayaor Jenderal TNI Jaswandi secara langsung memberikan ucapan selamat kepada para Satgas Yonif 405/(SK). Foto: Shodiqin
Panglima Kodam IV/Diponegoro Mayaor Jenderal TNI Jaswandi  memberikan ucapan pesan kepada para Satgas Yonif 405/(SK) sebelum diberangkatkan dengan menggunakan kapal. Foto: Shodiqin

Parjurit Satgas Yonif 405/(SK) melakukan yel-yel semangat di hadapat Panglima Kodam IV/Diponegoro Mayaor Jenderal TNI Jaswandi Foto: Shodiqin

Salah satu prajurit sedang memeluk putrinya yang sedang menangis sebelum berangkat bertugas. Foto: Shodiqin

Seoarang putra yang mengangis seoarang ayahnya sebelum berangkat bertugas. Foto: Shodiqin

Salah satu putri yang tengah menagis ketika berpamitan sengan ayahnya untuk bertugas di luar Jawa. Foto: Shodiqin

Memeluk seakan tidak ingin jauh dari seoarang sosok ayahnya. Foto: Shodiqin

Seoarang prajurit berpamitan dengan kedua putranya sebelum bertugas. Foto: Shodiqin

Seoarang prajurit berpamitan dengan sanak keluarganya sebelum diberangkatkan. Foto: Shodiqin

Rabu, 15 Februari 2017

Sentra Pengasapan Ikan Mangut

Kota Semarang Jadi Salah Satu Penyuplai Ikan Mangut

RUMAH: Beberapa rumah sebagai pusat pengasapan ikan mangut di Desa Bandarharjo Semarang. Foto: Shodiqin
Siang itu, gumpalan asap terus keluar terlihat dari beberapa deratan Pancangsari (bangunan cerobong asap) yang tak jauh dari Kawasan Tanah Mas Semarang. Gumpalan asap yang tepatnya berada Kelurahan Bandarharjo Semarang Utara ini ternyata merupakan sentra pengasapan ikan di Kota Semarang.
Ketika dilihat lebih dekat,di dalam Pancangsari ini ternyata ada, banyak warga yang sedang bekerja mengelolah ikan mangut yang diolah dengan cara diasap. Anehnya lagi, pengasapan ini tidak menggunakan kayu atau kompor, melainkan dengan asap dari pembakaran batok kepala.
Sebelum proses pengasapan mulai, dari poses pembuangan kotoran ikan, pemotongan ikan, ikan, dilajut tusuk ikan dengan lidu agar tidak lepas ketika diasap, sampai pengasapan ikan berlangsung.
Suyatmi (52), salah satu  pengusaha pengasapan ikan mengatakan, tempat pengasapan ikan ini sudah ada sejak dulu puluhan tahun atau sejak nenek moyong. Sementara pengasapan ikan yang dikenal ikan mangut ini merupakan mata pencaharian utama khsususnya bagi warga Kelurahan Bandarhajo Semarang Utara.
“Sehingga, para pekerja disini rata-rata udah lanjut usia atau sudah puluhan tahun bekerja mencari uang di tempat pengasapan ikan,” kata Suyatmi saat ditemui Rumah_ody, Minggu, (20/11) dilokasi.
Sementara, pengasapan ikan mangut ini terbuat dari bahan ikan manyung juga bisa ikan pari kadang juga tongkol. “Ikan-ikan ini kami dapatkan dari para nelayan yang dijual di Pasar Kobong di malam hari,” tambahnya.
Untuk prosen pengasapan ikan sangat relatif kadang hanya 15 menit kadang juga sampai 30 menit. Sedangkan para pekerja sendiri dilakukan mulai pukul 08.00 WIB hingga sore hari. “Kalau malam biasanya ikan baru di buang kotorannya, kemudian paginya baru di potong-potong baru diasap,” paparnya.
Menurut Suyatmi, dalam sehari ia bisa menghabiskan ikan kurang labih 3 kwintal hingga 5 kwintal. “Bahkan teman pengusaha lain bisa sampai menghabiskan 1 ton ikan, namun, hari ini libur tidak produksi,” ungkapnya.
Untuk harga ikan mangut sendiri yang sudah diasap, I kg dijual dengan harga Rp 50 ribu yang isinya kalau besar bisa sampai 24 biji sementara kalau kecil bisa sampai 27 biji.
“Tempat ini satu-satunya tempat pengasil mangut di Kota Semarang, sehingga banyak pedagang pasar yang mencari disini mulai dari Pasar Johar, Pasar karang Ayu, Pasar Peterongan, Pasar Bulu, dan lainnya, bahkan pernah dari Bandung ngambil disini,” katanya.
PROSES PENGASAPAN IKAN: Seorang pekerja sedang melakukan proses pengasapan ikan mangut yang letaknya di sentra pengasapan ikan  Kawasan Kelurahan Bandarharjo Semarang Utara Semarang. Foto: Shodiqin
Mulai Bekurang
Ia menceritakan, sebelum berada disni pengolahan ikan asap ini awalnya mengolah ikan di rumah masing-masing. Namun, banyak komplen dari warga sekitar, mulai dari tempatnya kumuh hingga asapnya membuat pakaian berbau.
Maka dari itulah, oleh Pemerintah Kota Semarang tempat ini dijadikan satu lokasi yang tempatnya berada di samping sungai Tanah Mas Semarang.
“Dulu awal-awal masih ada sekitar 70 pengusaha ikan asap, namun akhir-akhir ini ada sekitar 30 penguasaha. Mungkin banyak yang bosen pindah profesi atau mungkin tidak ada genarasi yang meneruskan usaha milik orang tuanya dulu,” katanya.
Kubrotun (60) salah satu warga setempat menuturkan sudah menjadi pekerja di tempat pengolahan ini sejak belasan tahun. Bersama dua pekerja lain, ibu Kubrotun bekerja dibagian pemotong daging ikan dan pengasapan ikan Kepala Manyung.
“Alhamdulillah, dari sejak kecil hingga sampai sekarang, tempat ini merupakan tempat satu-satunya untuk mencukupi kebutuhan keluarga,” kata Kubrotun warga Kelurahan Bandarharjo Semarang Utara
Ia menceritakan, pengasapak ikan dengan penggunaan batok kelapa adalah agar nyala api bisa merata, hingga bagian dalam daging ikan bisa terkena semua. Kelebihan menggunakan batok kelapa untuk pengasapan ikan agar matang sempurna.
“Sehingga bila dibawa keluar kota, daging ikan ini masih tetap bagus dan tidak lengket. Kalo bahan pembakaran selain batok kelapa, ikan kerap kali lengket bila sudah berganti hari,” katanya.  Shodiqin.



Antar Jemput Sekolah

Sudah 26 Tahun Dipercaya Masyarakat dengan Becaknya

ANTAR JEMPUT: Paimin (66), sedang mengantar anak-anak SD berangkat sekolah dengan jarak sekitar satu kilometer saat ia melintas di Jalan Hanoman Semarang, Senin, (5/12). Foto: Shodiqin
Meski usianya lebih dari separuh abad, laki-laki bernama lengkap Paimin (66), dalam hidupnya tidak pernah mengeluh sebagai tukang becak khusus antar jemput sekolah anak-anak SD dan TK yang dijalaninya kurang lebih sudah 26 tahun.
Laki-laki yang beralamat di Perkampungan Jembawan Kelurahan Kalibantengkulon Kecamatan Semarang Barat ini, mengaku  tidak pernah merasa letih untuk mengayuh becaknya mengantar anak-anak berangkat dan pulang sekolah.
Tidak hanya satu kloter , namun ia lakukan dua kloter dengan jarak kurang lebih satu kilometer mulai dari Perkampungan Jembawan menuju ke SD Negeri Krayak dan TK Krapyak Semarang.
“Sudah sekitar 26 tahun saya melakukan pekerjaan ini sebagai tukang antar jeut sekolah dengan menggunakan becak,” kata Paimin saat ditemui Rumah_Ody, Senin (5/12) seusai mengantar sekolah.
Laki-laki yang sudah memiliki empat anak dan 10 cucu ini mengatakan, sebelum dipercaya oleh warganya untuk mengantar putra-putrinya ke sekolah, awalnya ia hanya mengantar cucunya sekolah dengan mengunakan becak.
“Namun, lama kelamaan banyak warga yang meminta tolong sekalian untuk mengantar anaknya ikut dengan cucunya berangkat dan pulang sekolah,” katanya.
Ia mengatakan, untuk antar jemput pulang sekolah dilakukan dua kloter, untuk kloter pertama masuk pukul 07.00 WIB berangkat pukul 06.30 WIB dan kloter kedua masuk pukul 10.00 WIB berangkat pukul 09.00 WIB dan pulang pukul 13.00 WIB
“Karena di sekolah SD Negeri Krapyak ini diberlakukan dua kali masuk, sehingga yang masuk kloter kedua pukul 10.00 WIB saya jemput  pulang sekolah pukul 13.00 WIB. Dan ini saya lakukan setiap harinya,” papar Paimin.
Paimin menambahkan, pekerjaan antar jemput anak-anak sekolah sekarang ini kurang lebih 12 anak, karena untuk satu kali pemberangkatan becak dimuat maksimal enam anak.
“Tapi kalau pas pulang sekolah, ada teman-temanya tidak dijemput orang tuanya kadang juga ikut, sehingga becak terkadang dimuatin sampai delapan orang,” jelasnya.
Seikhlasnya
Paimin yang memiliki becak berumur 32 tahun ini, tidak pernah memasang tarif kepada warga yang diminta putra-putrinya untuk antar jemput sekolah. Bahkan banyak warga lain juga meminta jasanya untuk mengantar jemput sekolah.
 “Namun, karena waktu dan tenaga juga kurang saya menolak dan fokus sebagai antar jemput sekolah tetanggga saja,” katanya.
Ia mengatakan, dengan antar jemput sekolah ini kalau akhir bulan biasanya warga memberi uang jasa berbeda-beda karena tidak pernah pasang tarif. Ada yang memberi Rp 50 ribu, Rp 60 ribu bahkan ada juga yang member Rp 100 ribu.
“Meski pemberian warga berbeda-beda, Saya tidak pernah membandingkan, yang penting disyukuri,” tambahnya.
Muslimin salah satu warga mengatakan, selain Paimin yang dipercaya oleh warga untuk antar jemput sekolah di SD N Krapyak ini, ada juga Selamet (50), yang juga sebagai antar jemput sekolah.
“Jadi di SD Krpyak ini ada dua orang yang nganter pulang sekolah anak-anak,” katanya.
Menurutnya, dengan adanya antar jemput sekolah pakai becak ini, sangat membantu warga khususnya orang tua yang sibuk dengan pekerjaannya. “Di samping itu, banyak anak-anak yang suka diantar jemput sekolah pakai becak ketimbang menggunakan mobil,” jelasnya. Shodiqin.