Oleh:
Shodiqin
Sungguh
ironis melihat maraknya pengedaran narkoba di negeri
ini, banyak ditemukan para pelaku dengan modus berbeda-beda. Negeri yang selalu
menjadi sasaran empuk oleh negara lain sebagai tempat para pembisnis barang
haram tersebut dikarenakan pertama keuntungan yang di dapat
sangat besar, harga sabu-sabu di negeri ini lebih mahal dari pada negeri lain.
Kedua pintu
masuk sangat terbuka, peralatan di pintu masuk sangat sederhana dan
manual. Ketiga perekrutan kurir mudah dan murah terutama
wanita. Terakhir banyak pencandu atau pengguna.
Data
hasil penelitian yang dilakukan oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) bekerjasama
dengan peneliti dari Puslitkes Universitas Indonesia tahun 2011 didapat
estimasi angka penyalahguna narkoba di Indonesia mencapai prevalensi 2,2% dari
penduduk berusia 10 s/d 59 tahun atau setara dengan 3,8 juta jiwa.
Demikian
disampaikan, Suswano Kepala Bidang Pencegahan Badan Narkotika Nasional Provinsi
Jawa Tengah dalam acara Seminar Nasional yang bertema Meet dan Great BPI
(Bimbingan Penyuluhan Islam) 2012 “Cerah Kampusku, gemilang Prestasiku Tanpa
Narkoba dan Free Sex” di Auditorium II Kampus 3 IAIN Walisongo
Semarang Rabu (07/11/12).
Dia
juga menghimbau kepada seluruh mahasiswa agar tidak mengkonsumsi narkoba dalam
jenis apapun. Dalam UU NO 35 Tahun 2009 sudah dijelaskan bahwa narkotika
adalah zat atau obat yang berasal dari tananaman atau bukan tanaman baik
sintesis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya
rasa, mengurangi sampai hilangnya rasa nyeri dan dapat menimbulkan
ketergantungan.
Yang
jelas, tidak ada jenis narkoba yang “aman” semuanya “berbahaya”. “Rokok saja
membahayakan, apalagi narkoba,” tegasnya.
Seorang
pecandu narkoba tidak dapat berfungsi secara normal dalam hidupnya. Seorang
pecandu narkoba akan terus memerlukannya, supaya dapat hidup normal dan dengan
takaran yang semakin hari semakin banyak. Seorang pecandu narkoba tidak mampu
menghadapi dan bergaul dengan normal dengan keluarganya, temannya, dan
masyarakat sekitarnya.
“Sehingga
bagi mahasiswa yang notabenya remaja jangan sekali-kali berani mencoba
mengkonsumsi narkoba kalau ingin hidup dengan prestasi yang cerah,” tambah
Susanto.
No Free Sex
Acara
yang berajuk “Cerah Kampusku, gemilang Prestasiku Tanpa Narkoba dan Free Sex”
juga membahas tentang bahaya Free Sex bagi remaja. Dimana remaja pada masa transisi
anak-anak menjadi dewasa umur 10-24 tahun sangatrentan terpengaruh sesuatu
terutama hal yang baru.
Karena
masa remaja dikenal mempunyai emosi labil, suka coba-coba, ingin cari
tahu, susah diatur dan susahmengendalikan diri. Demikianlah disampaikan
Dwi Yunarto Pusat Informasi dan Layanan Remaja Perkumpulan Keluarga Berencana
Indonesia (PILaR PKBI ) Jawa Tengah.
Mayoritas
pecandu free sex banyak dilakukan oleh kaum remaja. Permaslahanya dipengaruhi
oleh beberapa factoryaitu faktor budaya, keluarga, Peer Presure,
Life Style dan teknlogi.
Sehingga
ada pertanyaan, apa yang harus dilakukan remaja saat ini untuk mengindari hal
itu?. Pertama, mahasiswa harus dilindungi dari informasi yang tidak benar.
Kedua hindari pengaruh teman sebaya yang tidak baik. Dan ketiga hindari gaya
hidup yang negative.
“Apabila
mahasiswa bisa melakukan semua hal itu dan mau mengatakan No Free Sex, maka
prestasi cerah akan menghampiri kita,” terang Dwi Yunarto.
Harus Seimbang.
Acara
yang diselengarakan Badan Punyuluhan Islam (BPI) BEM Fakulats Dakwah IAIN
Walisongo Semarangdihadiri sekitar 300 peserta antara lain hadir
(Dosen, mahasiswa maupun pegawai). Zaini Ulumudin ketua panitia
mengatakan acara ini diharapkan agar memberikan pencerahan di lingkungan kampus khusunya
mahasiswa tentang bahayanya mengkonsumsi narkoba dan freex sex.
Dra. Jauharatul
Farida ketua Gender Jawa Tengah, juga mengatakan agar kita semua tidak
mudah terpengaruh mengkonsumsi narkoba dan terhindar free sex, kita harus
sama-sama bisa menyeimbangkan tiga potensi yang ada dalam diri kita.Yaitu
potensi akal, nafsu dan agama .“Ketiga potensi itu harus seimbang dan tidak ada
yang berat sebelah,” jelasnya.
Shodiqin
Sekertaris Umum Surat Kabar Mahasiswa (SKM) AMANAT. Mahasiswa Fakultas Tarbiyah
IAIN Walisongo Semarang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar